Didik anak Dari KBA sampai Rumah Baca

Advetorial
Anak-anak dirumah baca yoboi sedang berlatih menyanyi./SK

Sentani,SK – Tidak harus memiliki uang yang banyak, karena kesuksesan tidak hanya ditentukan dengan memiliki uang yang banyak.

Kesabaran, tekun, serta komitmen adalah dasar dimana kita menentukan apa yang sedang diupayakan untuk merubah cara pandang seseorang dari tidak bisa menjadi bisa.

Hanny Felle, 46 Tahun seorang ibu rumah tangga di kampung Yoboi Distrik Sentani yang telah berbagi pengalaman kepada 205 anak di dua Kampung untuk mengetahui ketrampilan berbahan baku lokal (daun sagu) hingga menjadikan rumahnya sebagai pusat literasi bagi 85 anak-anak di Kampung itu.

Berbekal ketrampilan yang memadai dari sejumlah kegiatan pelatihan yang digelutinya selama bertahun-tahun. Baik sebagai kader Pos Yandu, PKK, Majelis Jemaat GKI Maranatha Yoboi,  Fasilitator Kelompok Belajar Anak (KBA),  Instruktur Literasi, hingga sebagai tim perumus hasil musrembang kampung.

Awal 2011, Hanny dipercayakan Wahana Visi Indonesia (WVI) sebagai Fasilitator KBA Dua Kampung (Yoboi dan Kehiran), ada 205 anak yang didampinginya untuk mengajarkan ketrampilan lokal serta baca dan tulis (literasi).

Selain baca dan tulis yang menggunakan fasilitas formal, anak-anak ini juga diajarkan ketrampilan lokal dengan bahan ajar yang diambil dari alam sekitar dimana mereka tinggal.

Daun sagu, adalah salah satu bahan ajar yang digunakan. Dengan cara menganyam (merajut) untuk membuat tapisan sagu, noken, tas tangan, hingga kepada pembuatan atap rumah.

“ Anak-anak dalam kelompok belajar waktu itu berusia 6-17 tahun. Sudah banyak hasil dari bahan lokal yang dibuat dan digunakan untuk kepentingan mereka dirumah masing-masing,” ujar Hanny, Sabtu malam, 9 Maret 2019  di Kampung Yoboi.

Program ini berjalan dibawah pengawsan WVI hingga 2018. Ditahun yang sama, awal April  Hanny membuka Rumah Baca Yoboi dengan memanfaatkan rumahnya sebagai pusat kegiatan literasi.

Dengan melihat potensi serta kuantitas anak-anak dikampungnya yang jarang mendapat hal-hal baru dalam pertumbuhan mereka, Hanny berpikir keras untuk menjadikan Rumah Baca adalah solusi terbaik bagi anak-anak yang saat ini dikategorikan dalam jenjang pendidikan PAUD, SD kelas I-VI.

Dalam proses kegiatan, Hanny sudah memiliki Lima orang Fasilitator yang sebelumnya dibekali oleh Balai Bahasa Provinsi Papua.

Dengan kehadiran Fasilitator ini, Hanny merasa tertolong, walapun jejang pendidikan mereka hanya sebatas SMA/SMK, tetapi banyak membantu anak-anak untuk bisa baca dan tulis.

“ Fasilitas penunjang memang tidak begitu memadai, melalui swadaya dan dukungan sejumlah pihak yang perduli terhadap upaya kami, ada bahan ajar sederhana buku bacaan untuk anak, buku pendidikan untuk anak sd kelas I-VI yang bisa kami berikan sebagai panduan kepada anak-anak “

Waktu yang digunakan untuk belajar bersama di rumah baca adalah Senin, Rabu dan Jumat.

Menurut Hanny, waktu belajar ini dimanfaatkan dengan baik untuk mengajar anak-anak untuk bisa menulis dan membaca.

Ada banyak anak-anak yang sebenarnya sudah duduk di kelas III bahkan kelas VI masih belum lancar dalam menulis dan membaca.

Dari kegiatan ini, sebenarnya kita tidak mengambil alih porsi orang tua bahkan guru-guru di sekolah. Tetapi ini sebuah fakta bahwa masih banyak anak-anak yang sama sekali belum bisa baca dan tulis.

“ status anak-anak di rumah baca ini, ada yang orang tuanya masih lengkap, ada juga yang sudah pisah sama sekali, ada juga salah satu orang tuanya sudah meninggal. Mereka juga butuh kasih sayang, perhatian dan hal-hal baru yang tidak didapat disekolah, bahkan dalam lingkup rumah mereka masing-masing “

Upaya yang dilakukan ini sesungguhnya mendapat dukungan penuh dari masing-masing orang tua, Pemerintah Kampung, Pihak Gereja dan Kelompok Pemuda di Kampung itu.

Bukan berarti, usaha ini berjalan mulus. Tak jarang, ada oknum orang tua dan guru yang selalu memprofokasi proses belajar dan mengajar di rumah baca ini.

Bagi Hanny, hal tersebut sudah lumrah bagi masyarakat yang hanya tinggal di Kampung saja tanpa melihat perkembangan di luar sana.

“ Anak-anak diajar juga untuk meningkatkan percaya diri mereka sendiri. Hal-hal kecil seperti memulai dan mengakiri kegiatan dengan pimpin doa, menyanyi. Salah satu dari mereka ditunjuk secara bergantian untuk pimpinn didepan teman-temannya,”

Dampaknya terlihat jelas, ketka mereka kembali dikomunitas mereka masing-masing dalam sebuah kelompok. Mereka mulai mempraktekkan hal-hal kecil yang sudah diterima di rumah baca.

Tidak sampai disitu saja, hal ini juga berdampak dalam lingkup gereja. Secara kusus sekolah minggu, tanpa di perintah oleh pengasuh mereka. Ketika sekolah minggu mulai, sudah ada yang maju  untuk pimpin menyanyi dan berdoa.

“ tujuan kita sederhana saja, anak-anak ini dikemudian hari bisa berkembang lebih baik. Dan menjadi panutan bagi orang lain disekitar mereka”

Hanny juga berharap ada dukungan Pemerintah daerah, pihak swasta serta masyarakat luas secara kusus bagi peningkatan rumah baca yoboi.

Salah satu orang tua murid, Viktor Tokoro mengaku sangat terkesan dengan upaya serta pembinaan yang dilakukan oleh Ibu Hanny bersama lima fasilitatornya kepada 85 anak-anak di kampung Yoboi.

“ Masih ada orang yang berbaik hati, semangat, dan mmeiliki jiwa penolong untuk melihat kekurangan yang dimiliki oleh anak-anak kami. 85 oranga dengan latar belakan yang berbeda-beda dapat disatukan dalam satu rumah baca adalah hal yang mustahil. Sebagai orang tua, saya tetap meberikan dukungan penuh terhadap apa yang sudah dilakukan,” ujarnya.

Orang tua wali murid lainnya, Petrus Wally, mengatakan pengaruh dunia moderen saat ini sangat berbahaya ketika anak-anak usia dini tidak diberikan pengertian dan wawasan yang baik kepada mereka.

“ Aibon, narkoba, miras dan pengaruh negatif lainnya sudah masuk hingga ke kampung. Orang tua yang tidak siap dan waspada, maka jangan menyesal dikemudian hari ketika anaknya berurusan dengan pihak berwajib,” ungkapnya.

Salah satu anak yang ikut terlibat dalam Rumah Baca Yoboi, Lutfi, mengatakan dirinya sudah duduk dikelas IV SD tetappi tidak begitu lancar dalam hal baca dan tulis. Setelah bergabung di Rumah Baca, ada banyak perubahan yang dialaminya.

“ Disekolah guru jarang masuk, kami lebih banyak diluar kelas dan bermain. Setelah bergabung di rumah baca saya sudah lancar mebaca. Bunda Hanny banyak mengajari saya dan teman-teman untuk baca dan menulis, tetapi juga hal-hal yang baik seperti berdoa, bernyayi dan banyak juga permainan yang kami lakukan secara bersama,” pungkasnya. (*)

373 total views, 13 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code