Flora Rikin satu-satunya wanita yang tembus super titanium 2018

Profil
CEO Gallery Photography Indonesia Jeffry Surianto saat memberikan plakat penghargaan kepada Flora Rikin sebagai peserta terbaik peringkat satu Super Titanium 2018

Mengenal  Flora Rikin, melalui profilenya, kami bertemu dengan  sosok wanita dengan hasrat luar biasa, tidak mudah menyerah dan tidak kenal lelah dalam melakukan apa saja yang diinginkan. Kegagalan demi kegagalan, jatuh bangun tidak pernah menyurutkan langkahnya, satu hal yang menjadi hasratnya adalah menghasilkan karya yang terbaik.

Dunia Photography bagi Flora  sebenarnya bukanlah hal yang baru, meski belum bergumul sebagai photographer. Sejak masih belia, sudah bergumul dengan dunia cetak mencetak foto hitam putih  dengan enlarger, karena Ia membantu mendiang ayahnya yang bekerja di toko potret Pacific, di Kawasan Braga, Bandung.

Dalam dunia Photography, perempuan asal Bandung ini bukanlah siapa-siapa. Berbekal rasa ingin tahu dan hasrat untuk menghasilkan karya yang terbaik menjadikan dia mulai dikenal sebagai photographer. Hasil bidikan camera buah perjalanan keberbagai daerah di Indonesia dan luar negeri menghasilka karya-karya luar biasa sehingga pada akhirnya pada tanggal 8 Desember 2018 Ia mendapat gelar sebagai photographer terbaik Indonesia 2018 versi Gallery Photography Indonesia.

Apa saja yang menjadikan satu-satunya pemenang wanita dari lima belas peserta ujian pada kelas Super Titanium Gallery Photography Indonesia 2018 sehingga bisa mencapai predikat terbaik di dunia Photography, berikut hasil wawancara suarakhena.com

Sejak kapan menggeluti photography, dan apa yang membuat anda tertarik

Sebetulnya dunia photography bukan dunia yang asing bagi saya. Waktu saya masih kecil sering membantu papa mengeringkan dan memotong pas photo para pelanggan karena Papa bekerja di toko potret Pacific, di Kawasan Braga, Bandung dan sering mencetak pas foto hitam putih dengan Enlarger. Setelah saya menikah dan punya anak, saya sering mengabadikan anak-anak saya dengan kamera pocket.

Setelah Michael  anak saya yang sulung masuk SMA dia mulai menyukai photography, dan mulai memilki kamera Nikon D-90. Namun setelah lulus SMA, Michael melanjutkan kuliah di Toronto, kameranya tersimpan rapi di dry box. Sejak itu saya mulai berminat untuk belajar photography, bahkan belajar pada Sekolah Foto Tjap Budhi Ipung di Bandung sejak tahun 2010. Sejak itulah saya mulai sungguh-sungguh bergelut dengan dunia photography. Selain sebagai hobby,  menghasilkan photo yang bagus juga sebagai tuntutan, karena untuk mendapat predikat lulus dari Sekolah Foto Tjap Budhi Ipoeng, setiap siswa wajib meng-upload foto-foto dan dinilai oleh pak guru Budhi Ipoeng dan harus dinyatakan lulus sebanyak 29 foto, kemudian 29 hasil photo harus dibukukan.

Semua saya jalani dalam waktu kurang lebih 1 tahun dengan segala kegembiraan dan ketegangan yang mengasikkan, sampai akhirnya dinyatakan sebagai lulus dan mendapat predikat tjap Budhi Ipoeng dengan diberi pin emas saat SFTBI award Oktober 2011. Buku kumpulan ujian itu saya beri judul “Olah Rasa Hadirkan Cinta Dalam Sepenggal Peristiwa”. Judul ini  dipilih karena pada saat itu ingin bahwa karya fotografi bagi saya  adalah semacam kontemplasi dalam diri sendiri. Belajar di sekolah tjap Budhi Ipoeng berlanjut dengan ujian tingkat Gold tjap Budhi Ipoeng. Pada tingkat ini sya harus menghasilkan 19 foto dengan mutu dan standar yang lebih tinggi. Tingkat ini saya tempuh selama 5 tahun. Pada masa itulah saya menempa diri untuk belajar menjadi seorang photographer.

Itulah perjalanan awal bergelut dalam dunia photography. Akhirnya apa yang membuat saya tertarik pada dunia photography adalah lewat dunia photography saya menemukan dan menghadirkan cinta melalui sepenggal peristiwa.

Pendapat anda tentang Gallery Photography Indonesia (GPI), dan kapan bergabung bersama GPI

Ketika saya sedang menjalani Ujian untuk Sekolah Foto Tjap Budhi Ipung, saya mulai aktif mengupload foto di facebook; melalui  facebook  saya berkenalan dengan Veronica Saver yang mengajakku untuk bergabung di Galleri Photography Indonesia. Maka sejak bulan September 2011 saya mulai bergabung dengan GPI.

Perasaanku amat bahagia  mendapatkan frame pertama dan  membuatku  bersemangat mengunggah foto-fotoku di GPI.  Ternyata  tidak mudah untuk mendapat frame, karena  dalam GPI ini kemampuan kita diasah untuk dapat menghasilkan foto yang tajam, dan berkualitas baik. Sehingga untuk  mendapatkan frame di GPI menjadi tantangan bagiku untuk menghasilkan karya foto yang baik. Namun ternyata bukan hanya untuk mendapatkan frame yang menantang akan tetapi juga tantangan untuk masuk dalam kategori Titanium dan Supertitanium.  Syukur pada Allah tantangan demi tantangan selalu menjadi penyemangat bagiku untuk terus berkarya. Prestasi terbaik saya adalah saya mendapat frame untuk Best Photo of the Year untuk Still Life tahun 2015.

Setelah bergabung dengan GPI saya mulai rajin bergabung dengan GPI trip berkelana ke berbagai tempat dan mengikuti kegiatan berpameran di Gyeong Nam Korea Selatan . Saya mengikuti pameran foto dengan GPI di Gyeong Nam Korea Selatan  pada tahun 2012 , 2017 dan 2018.

Sambil menunggu pengumuman Hasil Supertitanium saya mulai lagi mengupload foto-foto pilihan, dan Puji Tuhan saya mendapat frame Editor Choice, Sesuatu yang menjadi kebanggaan tersendiri,

Bagi saya GPI adalah suatu wadah fotografer yang memungkinkan para fotografer untuk belajar dan berani mengekspresikan diri melalui karya-karyanya dan ada beberapa orang team juri dari berbagai kategori untuk menilai dan mengapresiasi karya foto kita melalui pemberian frame foto untuk 18 kategori, karena sebagai fotografer kita juga dituntut untuk bisa berkarya dalam berbagai kategori foto.

Apa saja tantangan atau suka dan duka sebagai seorang Photographer

Tantangan sebagai fotografer adalah bagaimana menghasilkan suatu karya yang baik dan bisa menampilkan gambar yang baik . Menghasilkan karya foto sebagai karya seni dan terlebih-lebih sebagai sarana untuk lebih bersyukur dan lebih mencintai Tuhan sang pencipta segalanya, yang sering saya ungkapkan sebagai Sang Maha Cinta. Sebagaimana saya katakan di awal bahwa dengan photography saya menemukan dan menghadirkan cinta dalam sepenggal peristiwa,

Menghasilkan foto yang baik adalah tantangan, dan bisa membawa kebanggaan dengan menjadi photographer yang baik. Tetapi lama kelamaan perasaan bahagia dan bangga berubah dan berkembang menjadi sesuatu rasa kekhawatiran karena saya takut untuk dinilai orang dengan predikat dan cap yang saya buat sendiri sebagai Fotografer.,Saya  mulai takut untuk mengupload foto yang saya rasa kurang baik, Saya mulai takut untuk dinilai dan sering saya bertanya pada anak dan sahabatku tentang foto yang akan saya upload, hanya karena saya takut mendapat celaan, akhirnya, semakin sedikit foto yang saya upload, dan foto lebih banyak tersimpan di hard disk.

Pada satu titik saya berhenti berfikir; sebenarnya apa yang saya harapkan ketika saya memutuskan untuk menjalani hobby  fotografi ini. Hobby seharusnya dijalani dengan kegembiraan, dengan cinta dan tanpa beban, bukan agar saya dipuji dan dikagumi semua orang bahwa saya adalah fotografer yang hebat dan luar biasa.

saya ingin  menjalaninya  dengan kebebasan dan kebahagiaan. Saya ingin belajar  untuk menjadi lebih baik, dan menerima keterbatasan saya  (“nobody perfect”} lewat masukan dan kritik yang diberikan. ketika saya merasa ahli dalam satu bidang, di dunia ini ada jutaan orang yang jauh lebih baik dari saya. Semakin banyak saya belajar, semakin saya sadari kekurangan saya, maka semakin banyak saya belajar membawa pada kerendahan hati dan kesadaran bahwa saya bukan apa-apa, sehingga tidak ada alasan apa yang saya lakukan adalah agar “dunia” mengagumi saya.

Akhirnya saya memutuskan, akan  kujalani hobby fotografi dengan kegembiraan, kebebasan, dan kerendahan hati untuk terus belajar dan berkarya, saya akan melakukan yang terbaik yang bisa saya capai, agar saya bisa menghadirkan cinta melalui sepenggal peristiwa yang saya rekam dalam foto saya.

Dari informasi yang ada, anda sering berpetualangan keluar negeri untuk foto. Negara mana saja dan apa perbedaannya dengan Indonesia

 Beberapa Negara yang pernah saya kunjungi adalah :

Malaysia, Singapura, Thailand, Kamboja, Vietnam, Myanmar, Jepang, Korea, Cina, Mongolia, India, Israel, Mesir, Jordania,Dubai,  Australia, New Zealand, Marocco, Norwegia, Iceland, Amerika serikat, Peru, Canada, Belanda. Dari sekian banyak tempat yang saya kunjungi, saya mengagumi semua tempat dengan segala keunikannya. Saya melihat banyak budaya yang berbeda. Saya menyukai  kerapihan, keteraturan, dan tradisi, karena itu bagiku Jepang adalah negara yang paling cantik yang saya kunjungi. Meskipun masih banyak tempat yang belum saya kunjungi, seperti Amerika dan Eropa.

New Zealand adalah tujuan wisata yang paling cantik, temanku mengibaratkan seperti berjalan dengan background seperti wall di komputer, karena sepanjang jalan begitu hijau dan indah..

Sebetulnya saya senang berjalan di Indonesia, seperti Pulau Weh, Aceh, Medan, Belitung, Jogjakarta, Solo, Bali, Alor, Flores, Menado, Banjarmasin, dll. Seringkali saya bertanya di dalam hati, mengapa Negaraku yang cantik ini tidak mampu menjual kecantikannya, Beberapa tempat seperti Langkawi dan Penang, atau Pasar terapung di Bangkok, kalah cantik daripada tempat tujuan wisata serupa yang terdapat di Nusantara, tetapi karena infrastruktur yang kurang baik, maka departemen pariwisata tidak mampu menjual kecantikan tempat wisata itu.

Hal ini patut di sayangkan, karena itu dalam usaha memperkenalkan Indonesia, sering saya meng-unggah foto Indonesia di jaringan sosial, saya berpikir, walaupun sedikit, tapi saya ingin juga berpartisipasi untuk Indonesia.

Kadang-kadang teman-temanku bertanya, apakah tempat yang saya kunjungi itu bagus atau tidak. Agak sulit menjawab pertanyaan seperti itu karena bagus itu relatif, dan saya termasuk orang yang selalu menikmati pemandangan di manapun tanpa pernah membandingkan dengan tempat lain, bagiku satu tempat memiliki keunikan masing-masing, yang tidak dapat dibandingkan.

Bagiku bukan menilai bagus atau tidak bagus tetapi saya menikmati pengalaman kekaguman yang menghantar pada pengalaman syukurku. Dengan demikian masih banyak yang perjalanan yang ingin kunikmati, yang makin memperkaya pengalaman batinku.

Akhirnya, anda satu-satunya perempuan dari delapan finalis yang dinobatkan GPI sebagai Phothographer Nasional. Bagaimana perasaan anda ( bisa diceritakan)

Sejak dulu saya sangat mengerti tentang perbedaan gender dalam berbagai bidang, Fotografi sebetulnya adalah wilayah kaum pria yang punya kekuatan fisik yang lebih, tetapi sebagai fotografer wanita, saya merasa wanita punya kepekaan yang berbeda dalam membuat suatu hasil karya yang kadang-kadang luput dari perhatian kaum pria, sejak masuk dalam jajaran 15 finalis dan menjadi satu-satunya wanita yang berhasil dalam final, saya merasa ini adalah suatu keberhasilan dan kebanggaan tersendiri.

Ada 21 modul tantangan foto yang diberikan untuk babak penyisihan, semi final dan final. Apa tantangan foto yang tersulit menurut anda

Tahun 2014 saya pernah mencoba untuk masuk ke Supertitanium, tetapi tidak berhasil melalui babak penyisihan. Saya menjadi putus asa dan ada rasa enggan  untuk mengulang mengikutinya,  di samping itu sepanjang tahun 2016 sibuk dengan berbagai trip, dan tahun 2017 sibuk mempersiapkan pernikahan Michael, putraku.

Hingga pada akhir tahun 2017 ada seorang sahabat baikku mengajak untuk mencoba bertekun lagi untuk menyelesaikan tantangan yang diberikan pada Supertitanium, awalnya saya menolak, dengan berbagai alasan seperti banyaknya travelling, atau tidak akan mampu menyelesaikan tugas pada waktunya  karena kesibukan lain yang sedang saya kerjakan,  tetapi  sahabatku dengan sabar memberi pengertian dan ada satu nasehat yang sampai saat ini saya kenang, “kemenangan pertama dan terbaik dalam hidup ini sesungguhnya adalah mengalahkan diri sendiri”, yang terpenting adalah bagaimana mengelola waktu dan menyelesaikan masing-masing tugas dengan durasi 5 hari, dan ada 1 tugas Essay.

Saya mulai memberanikan diri untuk mendaftarkan diri walaupun dengan setengah hati dan belum yakin akan kemampuanku.

Dan akhirnya mulai menerima dan membaca peraturan dan jadwal Supertitanium, ternyata tugas pertama bertepatan dengan trip saya ke Peru dan hanya punya waktu 1 hari untuk membuatnya, ternyata hasilnya jauh dari memuaskan. Disitulah saya mulai bertekad untuk mulai membulatkan tekad untuk “Do my best” mengalahkan ego dan kemalasan dalam diriku.

Tugas-tugas berikutnya saya jalani dengan lebih bersemangat, dengan didukung oleh suami, anak-anak, adik ipar, keponakan dan karyawan bergotong royong membantu saya untuk meyelesaikan tugasku dengan baik,  7 tugas babak penyisihan dapat dituntaskan sehingga   berhasil menduduki Ranking II.

Memasuki  Babak Semifinal bersama 27 rekan lainnya dan mulai berusaha lebih serius untuk mencerna dan mengerti tentang tugas-tugas yang diberikan dan hasilnya saya berhasil mendapat nilai tertinggi secara berturut-turut dalam tugas yang berbeda, hasilnya  masih bertahan di ranking II.

Kemudian masuk ke babak final bersama 14 orang teman GPI dan yang mengharukan adalah saya satu-satunya Photographer wanita yang berhasil masuk babak final.

Dukungan dari para Srikandi GPI seperti Mbak Martina Henny, mbak Junita Arneld dan ibu Franny Constantia memberikan semangat kepadaku dan terimakasihku tak terhingga untuk founder GPI oom Jeffry Surianto yang tak henti-henti memberi support secara mental agar dapat menyelesaikan babak final ini dengan baik.

Yang tersulit adalah bagian essay  karena , sejak bulan Maret saya sudah mendaftarkan diri ke sebuah Rumah Sakit mata di Perth untuk mengobati Retina pada mata saya dan jadwalnya sama dengan pembuatan tugas Essay yang judulnya belum diumumkan, hal ini tidak bisa dihindari. Terpaksa saya berangkat ke Perth dan baru keluar tema tugas Essay, yaitu “Market” saat googling yang ditemukan adalah Fremantle Market yang hanya buka saat weekend, sedangkan saya harus menjalani operasi Vitrectomy pada retinaku pada hari Kamis, jadilah saya membuat tugas dengan mata kanan tertutup dan tidak mudah untuk mengedit foto dengan satu mata tertutup, Mbak Martina Henny dan oom Jeffry mengingatkan untuk tidak terlalu memaksakan diri  dengan  memotret dan mengedit foto. Akhirnya tugas diselesaikan diatas pesawat dalam perjalanan dari Perth ke Jakarta, karena batas waktu pengumpulan adalah besok pukul 12. Saya lalu pulang ke Bandung dengan tekad akan mengupload pada dini hari, tetapi ternyata, tas kamera dan charger macbook terbawa oleh anakku ke Jakarta, sementara posisi dalam perjalanan ke Bandung, kepanikanpun meningkat karena macbook ku tinggal 6 persen, sedangkan tugas semua ada di desktop, dengan perasaan was-was saya memindahkan pekerjaanku ke harddisk, syukurlah semua berlangsung baik. Akhirnya saya berhasil mengumpulkan tugas Essay  tepat pada waktunya.

Hasil dari Babak Final ini amat menggembirakan karena saya mulai bertekad untuk “Mengalahkan diri sendiri” dan mengerjakan dengan baik dan bertekad untuk menjadi Srikandi GPI selanjutnya yang lolos Final GPI Supertitanium

Di Supertitanium, tidak pernah diumumkan perolehan nilai setiap tugas, yang muncul hanya perolehan niai tertinggi, dan itulah yang memacu saya untuk berusaha memperoleh nilai tertinggi untuk setiap tugas, terutama di babak final.

Tetapi ini adalah hal yang sulit karena harus bersaing dengan peserta lain yang punya kemampuan mumpuni. Mimpiku adalah menjadi lulusan Supertitanium 2018, dan tak pernah bermimpi untuk menjadi ranking 1, sudah lulus saja sudah syukur, tetapi kenyataan berkata lain, akhirnya saya dapat meraih 3 nilai terbaik di babak semifinal dan menduduki ranking pertama di Supertitanium 2018

Setelah dinobatkan sebagai photographer nasional. Apa pesan dan harapan anda terhadap perkembangan dan kemajuan photography dan phographer di indonesia.

Semoga makin banyak photographer yang berani menampilkan keindahan alam Indonesia, Jujur dalam berkarya, artinya berani menampilkan object foto apa adanya tanpa banyak olah digital, Berani lebih tampil dan merani menghargai karya sendiri dengan lebih berani ikut serta dalam kancah persaingan dalam fotografi Internasional. Satu hal yang sedang saya geluti adalah membuat buku perjalanan karya foto sendiri, dicetak dalam Hard copy, sehingga tidak hanya berakhir di harddisk saja. Berani tampil dan lebih menghargai karya sendiri.

Pemerintah  khususnya Departeman Pariwisata lebih banyak memberikan informasi tentang kekayaan budaya yang ditampilkan dalam Festival rakyat, sebagai contoh, saya pernah memotert Festival Inti Raymi di Peru dan kota Cusco dipenuhi banyak turis dari mancanegara dari berbagai belahan dunia, dan Cusco memersiapkan semua akomodasi dengan baik, pengemasan festival juga amat baik dengan campur tangan pemerintah dan seluruh pendukungnya. Saya merasa di Festival  Indonesia tidak kalah banyak dan bagus, mungkin baik jika  Departeman Kebudayaan dan Pariwisata dapat menangani lebih serius dengan menggandeng wadah photographer seperti contohnya GPI ini. (**)

 

2,687 total views, 117 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code