Catatan Redaksi Jayapura Membangun

Advetorial
Bupati dan Wakil Bupati Jayapura /SK

JAYAPURA adalah salah satu kabupaten di Provinsi Papua dari 28 Kabupaten dan 1 Kota. Kabupaten ini cukup strategis untuk dikembangkannya bidang pariwisata, sebab gerbang masuk ke Kabupaten Jayapura melalui Bandar Udara Sentani yang berada tepat di Danau Sentani.

Sektor Pariwisata di Kabupaten Jayapura saat ini memiliki potensi yang sangat besar untuk dikelola, selain dapat menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD) tetapi juga sebagai sumber peningkatan ekonomi masyarakat lokal.

Sebut saja objek wisata yang dimiliki Kabupaten Jayapura saat ini seperti Tugu Mc.Arthur di ifar gunung Sentani, Perbukitan Tungkuwiri (teletubis) di Kampung Doyo Lama, Pemandian Alam CPA Hirosi di Kemiri Sentani.

Dibagian pesisir pantai ada Pantai kerikil Tablanusu, Pantai Amai,Pantai Harlem, Pantai Krimpong yang semuanya itu berada di Distrik Depapre.

Tidak sampai disitu saja, Kabupaten Jayapura sudah 11 kali menyelenggarakan Iven Budaya yang bertajuk Festival Danau Sentani setiap setahunnya.

Iven budaya ini diselenggarakan setiap 19-23 Juni di pelataran Pantai Wisata Khalkote Distrik Sentani Timur. Dengan menampilkan banyak sekali penampil dari sejumlah Daerah yang turut diundang dalam Festival tersebut. Tidak hanya masyarakat lokal dan sebagian besar masyarakat Kabupaten Jayapura, tetapi juga ada tamu – tamu yang datang dari luar Papua hingga mancanegara yang datang dan menyaksikan gelaran budaya ini.

FDS juga termasuk dalam agenda Kemeterian Pariwisata RI, Pemerintah Pusat dihadapan Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerinah Kabupaten Jayapura melalui Kementerian Pariwisata pada 19 Juni 2017 bertepatan dengan pembukaan FDS ke X lalu  telah menetapkan Festival Danau Sentani (FDS) sebagai Festival Danau yang cukup sukses dalam penyelenggaraan selama sepuluh Tahun secara berturut-turut.

Selain itu ada Festival Makan Papeda didalam Sempe yang biasa di gelar pada 29 September di Kampung Abar Distrik Ebungfauw. Festival makan papeda secara massal ini baru dua kali digelar, cukup menarik minat masyarakat dan pengunjung yang berlomba-lomba menuju Kampung abar untuk makan Papeda secara gratis yang dibuatkan langsung oleh masyarakat setempat.

Bupati Jayapura Mathius Awoitauw pada perhelatan kedua Festival Makan Papeda tidak sempat hadir dalam acara pembukaannya, kendati demikian masyarakat lokal yang juga sebagai Panitia kegiatan telah berkomitmen bersama sejumlah pihak agar pelaksanaannya di Tahun –tahun mendatang Festival Makan Papeda dalam Sempe  dilaksanakan secara bersamaan oleh seluruh Kampung yang ada di pesisir Danau Sentani.

Pariwisata memang menjadi andalan di Daerah ini, dari pesisir Danau Sentani hingga teluk tanah merah dan   Pantai Utara Dafonsoro memiliki potensi tempat-tempat Wisata yang secara alami belum dikelola secara profesional.

Setahun setelah kebangkitan masyarakat adat di kumandangkan oleh Masyarakat Adat dan Pemerintah Kabupaten Jayapura pada 24 Oktober 2014, bertempat di Kampung Tablunusu Distrik Depapre dalam moment peringatan hari kebangkitan masyarakat adat tersebut digelar Festival Bahari Tanah Merah (FBTM)yang pertama.

Festival ini dilaksanakan secara kusus oleh masyarakat yang mendiami pesisir pantai dan perkampungan di teluk Tanah Merah.

Selain menjadi ajang promosi potensi wisata yang dimiliki, tetapi juga sebagai upaya pelestarian nilai budaya disetiap Kampung melalui pementasan seni tari dan lagu secara tradisional. 2018 adalah tahun ke Empat penyelenggaraan FBTM di Kampung Tablanusu.

Keterlibatan masyarakat lokal sangat tinggi dalam empat tahun penyelenggaraannya, hanya saja dari segi penampilan yang seharusnya lebih banyak dilakukan atraksi diatas dan dalam laut belum begitu nampak. Hal ini disebabkan karena kondisi cuaca yang tdak bersahabat dengan waktu pelaksanaan.

Oleh sebab itu ditahun medatang iven yang sama akan dijadwalkan pelaksanaannya lebih cepat dari empat tahun sebelumnya, yaitu bulan Juni. Sebab dibulan-bulan tersebut kondisi cuaca dilaut sangat bersahabat dan memungkinkan untuk setiap Kampung dapat menampilkan atraksinya masing-masing sesuai budaya yang dimiliki diatas dan didalam laut. Pemerintah Daerah memastikan kegiatan FBTM akan disatukan bersama dengan FDS.

Dari sejumlah rangkaian kegiatan Festival yang bernuansa Budaya di Kabupaten Jayapura ini, diharapkan dapat berkembang dengan baik dan membatu sektor ekonomi serta pendapat masyarakat lokal.

Bupati Jayapura Mathius Awoitauw pada Rapat Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten Jayapura 30 Oktober lalu mengatakan bahwa potensi Sumber Daya Alam (SDA) di daerah ini sangat banyak. Saatnya SDA tersebut dikelola oleh masyarakat adat untuk kesejahteraan mereka.

Kabupaten Jayapura juga satu-satunya kabupaten yang menerapkan Kampung Adat. Dibawah kepemimpinan Bupati Mathius Awoitauw, masyarakat Adat di Kabupaten Jayapura mulai merasa untuk bangkit dan menentukan arah kehidupan mereka yang berjati diri dengan segala potensi sumber daya yang dimiliki.

24 Oktober 2013 tepatnya, kebangkitan masyarakat adat melalui pencanangan Kampung-Kampung adat di Daerah ini dengan melakukan perubahan status Kampung Dinas dan pemekaran Kampung-Kampung persiapan.

Tiga Tahun berselang lahirlah Peraturan Daerah (Perda) NO 8 Tahun 2016 tentang Kampung Adat yang disahkan oleh DPR Kabupaten Jayapura.

Masyarakat adat secara Nasional juga diakui oleh negara, hal ini dibuktikan dengan UUD 1945 Pasal 18 Ayat 6 dan Undang-Undang No 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Status Kampung Dinas yang dimiliki kini telah dirubah stausnya menjadi Kampung Adat. Dari Sentani bagian Timur ada Kampung Adat Ayapo, Kampung Nendali, dan Kampung Puai. Tersisa Empat Kampung yang direncanakan 2019 akan dirubah status Kampungnya dari Dinas ke Kampung Adat.

Dibagian pesisir Danau Sentani bagian tengah ada Kampung adat Ifale, Hobong, Yobeh dan Ifar besar serta Kampung adat Yoboi.

Demikian pula sebagian Kampung-Kampung dibagian Sentani Barat sepertu Dondai, Yakonde dan Sosiri.

Untuk Wilayah Pembangunan II,III,dan IV sebagian Kampung sudah berubah status dari Kampung Dinas menjadi Kampung Adat. Tital keseluruhan hingga 2018 telah mencapai 33 Kampung Adat.

Koordinator Dewan Adat Suku (DAS) Kabupaten Jayapura Daniel Toto pada peringatan HUT Kebangkitan Masyarakat Adat ke V di Lapangan Mandala Genyem Distrik Nimboran 24 oktober lalu mengatakan bahwa Masyarakat adat sudah puluhan Tahun dibiarkan tanpa ada perhatian yang serius. Ini saatnya untuk masyarakat adat bangkit dan mennetukan jati dirinya dengan memaksimalkan semua potensi sumber daya alam yang dimiliki. Tanah, hutan, kayu, danau,laut harus dikelola dibawah pengawasan masyarakat adat ebagai pemilik hak ulayat.

Keberadaan masyarakat adat tentunya menjadi perhatian serius oleh Pemerintah Daerah, hal ini dibuktikan dengan diturunkan anggaran dari sejumlah sumber yang langsung dikelolah oleh dan untuk kepentingan masyarakat adat itu sendiri.

Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman) Ruka Sobolinggi saat dihubungi di sentani (10/10/2018) lalu mengatakan pemahaman dan pendidikan tentang adat harus terus ditingkatkan dan disebarluaskan kepada generasi saat ini, menurutnya dengan memahami adat istiadat yang dimiliki oleh setiap suku ras dan golongan maka hal tersebut akan mengajarkan kita untuk kembali ke jalan yang benar.

Pemerintah Kabupaten Jayapura di Tahun 2019 akan menetapkan Pemerintahan Distrik sebagai pusat Pemberdayaan, data, dan informasi. Regulasi dan surat keputusan Bupati serta penganggarannya telah dipersiapakan oleh Pemerintah ini.

Enam Tahun sudah Pemerintah Kabupaten Jayapura mempertahankan pengelolaan keuangan dengan perolehan status Wajar Tanpa Pengeculiaan (WTP) bahkan dari keberhasilan tersebut Pemerintah Pusat melalui Presiden telah memberikan hadiah tambahan anggaran pembangunan sebesar 800 juta yang setiap tahun diterima.

Bupati Mathius Awoitauw telah menyelesaikan satu athun pemerintahannya dengan baik di periode kedua kepemimpinannya.

Sebagai manusia tentu hal ini tidak terlepas dari banyaknya kekurangan yang harus dibenahi disegala sektor.

Pendidikan,kesehatan, infastruktur, dan peningkatan ekonomi masyarakat adalah bagian dari sisitem Pemerintahan Bupati Mathius Awoitauw dan Wakil Bupati Giri Wijayantoro yang harus dilaksanakan sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (PJMD) yang telah ditetapkan.

Dengan segala kekurangan fasilitas pendukung yang ada, saat ini Pemerintah juga disibukan dengan iven Nasional penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional XX Tahun 2020 yang diawali dengan pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) serempak Anggota DPR Kabupaten,Provinsi,DPRRI dan Preside RI pada 2019 yang sudah didepan mata.

Semua energi, tenaga, kemampuan dan pikiran akan dikerahkan secara penuh kepada dua memontum penting yang sudah tinggal menghitung hari kedepan.

Fasilitas infrastruktur jalan dan jembatan, palabuhan, serta Bandar Udara Sentani yang menjadi pintu masuk utama ke Papua.

Sebagai jurnalis di daerah ini pesan saya dalam proses pembangunan yang akan dilakukan nanti, masyarakat lokal jangan diabaikan hak dan kepemilikannya. Selain itu, libatkan masyarakat lokal dalam setiap proses pembangunan yang akan dilaksanakan disegala bidang. Proses sengketa diselesaikan oleh masyarakat adat itu sendiri, akan sangat rumit ketika dibawah kepada proses hukum positif. Hal ini dilakukan agar masyarakat juga diajak menjadi bagian dalam proses pembangunan yang terus berlangsung. Empat Tahun tersisa kepemimpinan Bupati Mathius Awoitauw dan Wakil Bupati Giri Wijayantoro, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan yaitu pelayanan kesehatan di rumah sakit umum daerah yowari, perekrutan tenaga guru, pelayanan di pasar pharaa, dan pembangunan infrastruktur jalan Kabupaten Jayapura.

 

Kenambai Umbai Rei mai / Satuh Utuh ceria Berkarya Meraih Kejayaan.

920 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code