Yance Deda menyukai music jazz sejak kecil

Profil
Yance Deda saat pentas di panggung Festival Danau Sentani 19-23 Juni lalu bersama trio papua. /SK

Musik Jazz berdasarkan kritikus jazz Joachim Berendt yang mendefinisikan jazz sebagai bentuk “seni musik yang berasal dari Amerika Serikat melalui konfrontasi orang kulit hitam dengan musik Eropa”, ia berpendapat bahwa jazz berbeda dari musik Eropa dalam jazz yang memiliki hubungan “Khusus untuk waktu, yang didefinisikan sebagai ‘ayunan’, sebuah spontanitas dan vitalitas produksi musik di mana improvisasi memainkan peran” dan “Kemerduan dan cara ungkapan yang cermin individualitas dari musisi jazz lakukan.” seperti yang di kutip melalui situs Wikipedia.org.

Jazz di Indonesia juga mendapat tempat dihati para penggemar music klasik, ada sejumlah Festival yang kerap kali dilaksanakan secara rutin. Misalnya Indonesia Jazz Festival, Java Jazz Festival dan sebagainya.

Di Papua music klasik ini belum mendapat tempat yang maksimal dibandingkan gendre Pop,Hiphop, Rock n Roll, dan Regea.

Yance Deda salah satu pemuda dari sekian banyak pemuda di Papua yang serius menggeluti music Jazz dengan memainkannya menggunakan Saxsofon.

Lahir dalam keluarga yang menggemari seni musik, bakat Yance sudah terlihat sejak kecil untuk  bermain musik.

Jalur formalpun dipilihnya dengan menimba ilmu di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada jurusan Teknology Musik dan saat ini sudah mencapai semester tujuh.

Sementara di bangku kuliah Yance seringkali diundang untuk mengisi dibeberapa acara, baik di Papua maupun diluar Papua. Saat ini Yance sedang menjalani kontraknya bersama salah satu Stasiun TV Swasta dalam acara Waktu Indonesia Timur yang dibawakan oleh Arie Kriting, Abdur, Yewen,Reinold, dan Komedian asal Indonesia timur lainnya.

Anak dari Ferdinand Deda ini saat ditemui pada sela-sela kegiatan Festival Danau Sentani 22 Juni lalu mengatakan bahwa musik jazz yang dipilihnya ini memang mempunyai tantangan tersendiri dan sangat unik dari sekian banyak genre musik yang dimainkan.

“ Saya mulai kenal musik ini dengan alat musiknya yaitu saxsofon sejak masih duduk di bangku smp. Setelah menyelesaikan pendidikan sd,smp,dan sma saya lalu memilih kuliah di ikj karena di papua belum ada perguruan tinggi yang mengajar soal musik jazz,” ujar bungsu dari lima bersaudara ini.

Menurutnya, musik Jazz mempunyai karakter tersendiri yang membangkitkan semangat setiap orang yang mendengar dan memainkannya.

Jazz itu tidak hanya soal harmoni dan kesesuaian nada dengan bunyi alat musik lain,tetapi perlu juga perhitungan yang matemtatis dalam memainkan nada dan irama dengan alat musiknya.

“ Saya memainkannya dengan saxofon, untuk mendalami alat musik ini sendiri tidak hanya formal saja yang saya dapati dalam bangku kuliah tetapi juga mengikuti sejumlah kursus diluar jam kuliah dengan beragai tingkatan,” katanya.

Dari bakat yang terus diasah ini, tak jarang Yance diundang untuk mengisi pada acara-acara formal dan acara umum lainnya.

Sejumlah Grup Band lokal di Indonesia pernah menggunakan jasanya sebgai Aditional Player. Harga yang dibayar itu yang digunakan untuk menjalani hidup dan pendidikannya di ibu kota Negara.

“ Selain kontrak dengan salah satu tv swasta, ada juga untuk mengisi musik untuk sejumlah grup band di tanah air. Di papua sendiri sudah banyak teman-teman musisi yang sering undang untuk pentas bersama dan sebenaranya dengan banyak tampil di papua untuk memperkenalkan jazz dan saxofon kepada generasi muda papua,” jelas laki-laki peranakan serui ini yang baru saja mengakhiri masa jomblonya dengan memepersunting gadis Jawa Tengah dalam sebuah pernikahan di Jayapura.

Diwaktu mendatang, Kata Yance bahwa dirinya punya cita-cita besar untuk memperkenalkan music jazz kepada generasi muda di Papua dengan membuka sekolah atau tempat-tempat kursus.

Karena baginya, dengan melakukan hal yang baik dan positif akan mengurangi tindakan-tindakan negataif yang saat ini marak dilakukan oleh genrasi muda yang rentan dengan pergaulan bebas.

Bakat dan talenta luar biasa ini terus mendapat dukungan dari orang-orang terdekat Yance. Keluarga dan juga sahabat-sahabatnya.

Jimmy Deda saudara tertua Yance mengaku sangat senang dan memberikan dukungan penuh terhadap apayang dijalani adik bungsunnya ini.

“ Tidak mudah untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi seperti ikj, butuh biaya tambahan yang banyak. Kendati demikian kami selalu bersyukur dengan kondisi yang ada dan memberikuan dukungan penuh kepada adik kami untuk tetap suskses di jalur yang dijalani saat ini,” ucap Jimmy.

Aloisius Jufawai salah satu tokoh pemuda daerah ini juga memberikan apresiasi terhadap Yance Deda yang memiliki bakat dan kemampuan untuk bermain saxofon di jalur musik jazz.

“ Sudah sering saya dengan nama ade Yance Deda, dan ini sangat luar biasa karena musik yang dibawakan dengan alat music tiup ini sangat langka di kalangan genarsi muda papua. Kita bicara musik memnag global, talenta generasi muda di papua sudah ada dan itu alami, tinggal bagaimana mengasahnya dan mensosilisasikan kepada orang lain,” ungkapnya. (**)

 

Yance Deda

TTL : Jayapura, 8 Januari 1996

Alamat : Padang Bulan II Kota Jayapura

Nama orang tua : Ferdinad Deda, Martha Fonataba

Pendidikan :

SD Sion padangbulan tahun 2008

SMP 13 organda tahun 2011

SMA 1 jayapura  tahun 2014

IKJ Tenologi Musik Semester VII

Alat music : Saxofon

7,397 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code