Pelestarian nilai budaya melalui sanggar seni

Profil
Sanggar seni reimay foto bersama dengan Presdin RI saat kunjungan kerja Presiden ke Papua 2016. /SK

Tabuhan bunyi Tifa sore itu sangat keras dengan irama yang cepat terdengar di bawah pepohonan jati putih yang rindang, belasan anak-anak usia sekolah sedang berlatih gerak dasar wor mengikuti irama tifa yang sedang berbunyi. Gerak dasar Wor biasa ditarikan oleh masyarakat Kabupaten Biak Numfor.

Sanggar Seni ReiMay, salah satu sanggar seni di Kabupaten Jayapura yang terletak di bawah kaki gunung Siklop jalan lingkar utara, bersamaan dengan tempat Pemandian Alam Club Pencinta Alam Hirosi Kemiri Sentani Kelurahan Hinekombe Distrik Sentani Kabupaten Jayapura. Masyarakat menyebutnya kolam pemandian CPA Hirosi.

Sebuah bangunan permanen berukuran 10X8 meter persegi dengan lantai tehel sebagai tempat latihan bagi para anggota Sanggar dari berbagai suku di yang tinggal di Kabupaten Jayapura.

Latihan sore itu Jumat 27 Juni 2018 disaksikan juga oleh Marshall Suebu, sosok pendiri Sanggar ini 18 Tahun silam yang berada dihalaman sanggar sejak  awal latihan dimulai pukul 15.30 wit. Kehadiran Koran jubi 30 menit berselang sesuai kesepakatan sebelumnya.

Sebagai pengurus dan anggota sanggar,latihan yang dilaksanakan sore itu sebagai rutinitas program sanggar yang terjadwal dua kali dalam seminggu, informasih awal dari sang pendiri sanggar sambil membawa dua buah kursi plastik untuk duduk.

Sambil menyaksikan jalanya latihan, Marshall Suebu lalu menceriterikan cikal bakal terbentuknya Sanggar Seni yang telah dinakodai selama 18 tahun.

Ide awalnya dari sejumlah seniman dan budayawan muda yang tergabung dibeberapa sanggar yang boleh dikatakan lebih awal sudah berdiri dan beraktifitas serta mempromosikan budaya lokal Papua baik di dalam maupun diluar Daerah.

Kesamaan pola pikir serta niat yang tulus untuk mengembangkan seni dan budaya lokal ini maka dari pikiran tersebut kami berembuk untuk membuat satu wadah sebagai tempat berhimpun generasi muda pada waktu itu.

“ Karena sudah ada pengalaman kita, waktu terlibat di sejumlah sanggar maka kami dirikan lagi sanggar yang disebut sanggar seni reimay yang artinya syukur atau sukacita,” ujar Marshall.

Sebenarnya, terbentuknya wadah ini untuk menghimpun generasi muda yang aktif dan kreatif untuk berkreasi. Sehingga ada ruang-ruang kreasi bagi mereka dalam melakukan serta meyalurkan minat dan bakat mereka dibidang seni budaya.

Sebab kalau tidak dilakukan dan tidak ada ruang bagi generasi muda untuk menyalurkan bakat mereka yang positif maka sudah pasti larinya ke hal-hal yang sangat merugikan pemuda itu sendiri. Padahal mereka punya potensi yang cukup untuk melahirkan karya-karya seni yang luar biasa dan itu berlangsung hingga saat ini, itu yang menjadi latar belakang berdirinya Sanggar Reimay, kata Suebu.

Apa saja yang dilakukan didalam sanggar sejak terbentuk pada April 2000, Seniman dan juga Pemerhati lingkungan ini menguarikan bahwa terbentuknya sebuah wadah berhimpun pasti ada yang mengakomodir dan menjalankan sesuai dengan program dan jadwal yang telah direncanakan.

“ Sanggar ini setelah terbentuk, secara resmi kita daftarakan ke pemerintah daerah melalui kantor kesatuan bangsa sebagai organisasi kemasyarakatan. Lalu, badan pengurus melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan fungsinya. Ada jadwal latihan yang rutin yaitu hari rabu dan jumat, tetapi juga ada jadwal latihan diluar jadwal rutin ketika ada permintaan pentas dan mengisi pada acara-acara tertentu,” ujarnya.

Untuk mempertahankan budaya lokal secara umum Papua, maka peran sanggar sangat penting karena didalam sanggar ini diajarkan sejumlah karya seni.

Salah satunya seperti tari reimay yang menggambarkan bagaimana ungkapan syukur masyarakat Papua umumnya tetapi kususnya masyarakat Sentani atas anugerah Tuhan terhadap kehidupan meraka melalui hasil panen dikebun, hasil mencari ikan di Danau serta hasil berburu dihutan.Tetapi juga ada tari Noken, Pangkur Sagu serta karya seni lainnya.

Lebih rinci lagi Marshall menjelaskan, selama 18 tahun perjalanan sanggar seni reimay sudah banyak karya seni yang dihasilkan dan dipentaskan.

“ Ada sejumlah iven tahunan seperti festival budaya anak dan remaja tingkat provinsi dan nasional, festival seni tari kreasi daerah. Tetapi juga mengisi acara pada pentas-pentas formal dalam acara-acara yang dihadiri pejabat dari pusat. Dilain waktu diminta untuk menjemput para pejabat negara dengan tarian penjemputan,” ungkapnya.

Soal keunggulan, kata Suebu bahwa sanggar seni reimay 80 persennya dihuni oleh generasi muda yang Bineka Tunggal Ika dan benar-benar kreatif serta aktif untuk kegiatan sosialisasi seni dan budaya tetapi juga enerjik untuk menghasilkan karya seni. Tidak hanya dibidang seni dan budaya tetapi juga lingkungan. Generasi muda yang benar-benar bebas dari pengaruh miras dan narkoba.

“ Selain praktek penerapan seni dan budaya, para anggota sanggar juga dibekali materi leadership atau kemimpinan sehingga sejalannya waktu sanggar ini terus melahirkan penari-penari hebat tetapi juga koreografer berbakat yang akan melanjutkan jalannya wadah berhimpun ini kedepan,” ucapnya.

Suksesnya sanggar Reimay dalam melaksanakan rutinitas serta tampil dalam sejumlah iven dan acara tidak terlepas dari peran seoarang keroegrafer Jimmi Ondi yang mampu menciptakan gerak-gerak dasar menjadi sebuah karya seni yang luar biasa.

Jimon sapaan akrabnya ini saat ditemui di Sentani menceriterakan banyak pengalaman setelah belasan tahun bersama sanggar ini.

“ Sebelum menjadi pelatih, saya juga dibesarkan disanggar ini sejak duduk dibangku sekolah. Memang tidak mudah untuk meramu sebuah karya seni lalu ditularkan kepada anak-anak didik disanggar”

“ Semua gerak dasar tarian papua diajarkan kepada anak-anak didik. Dari gerak dasar tersebut lalu dirangkai dengan gerak tari moderen saat ini, memang anak-anak masih terbawa style dan gaya mereka masing-masing. Tapi lambat laun mereka bisa melakukan gerak tari dengan baik,” katanya.

Jimmi yang saat ini juga sebagai Guru muatan lokal disejumlah sekolah di di Daerah ini menambahkan bahwa dari hasil koreografinya ini telah membawa sanggar seni reimay untuk turut serta dalam iven-iven berskala lokal, daerah hingga Nasional.

Dirinya sangat berharap dari pengembangan seni budaya ini ada ruang kusus bagi setiap sanggar di Kabupaten Jayapura yang disediakan oleh Pemerintah Daerah melalui dinas terkait. Hal ini dimaksud agar nilai seni dan budaya serta kecintaan masyarakat saat ini kepada budaya tidak mudah hilang.

Lima tahun bersama sanggar reimay, Kristian Monim salah satu anggota sanggar mengaku banyak hal yang telah didapatinya sejak bergabung menjadi anggota.

“ Festival budaya anak tingkat provinsi dan nasional, festival seni pertunjukan tingkat provinsi papua serta iven daerah lainnya yang sudah saya ikuti. Dsanggar ini saya masih ingin banyak belajar dan mengembangkan seni dan budaya secara kusus budaya papua,” ujarnya.

Tidak berbeda jauh dengan Fransina Degei yang baru tiga tahun bersama sanggar seni reimay tetapi sejumlah iven daerah baik lokal dan tingkat provinsi sudah diikutinya.

“ Tidak hanya seni budaya, kecakapan hidup, cinta lingkungan, dasar-dasar kepeminpinan juga kami dapatkan. Ini hal dasar dari bagaimana kita menjaga budaya serta seni itu sendiri. Saya sangat berharap rekan-rekan sesame generasi muda diluar sana jga dapat mengembangkan bakat serta talenta yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada kita, jangan salah dipergunakan untuk hal-hal yang merugikan diri kita sendiri nantinya,” pungkas perempuan asal mepago ini.(**)

 

987 total views, 3 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code